Pantai kahonaPantai Timur Sumatera memang terkenal sangat indah. Masyarakat Timur Sumatera lebih menjadi saksi matanya. Seperti yang dikatakan salah satu Blogger, "Waktu kecil, saya tahu Simamatco, Kualo, Sanggesange dan Sipaubat." Banyak wisatawan daerah maupun lokal yang memang sudah pernah menikmati keindahan Pantai Timur Sumatera itu. Salah satu Pantai Timur Sumatera yang belum banyak didengar masyarakat kita adalah Pantai Kahona. Pantai Kahona terletak di Desa Lobu Tua, kecamatan kota Barus dan berjarak lima kilometer dari pusat Kecamatan Andan Dewi serta ditempuh 2 jam dari pusat Kabupaten Sibolga, Sumatera Utara.
Pantai Kahona sebenarnya adalah sebuah teluk kecil yang memiliki pantai sepanjang 5000 meter. Teluk kecil ini memiliki pinggiran pantai yang landai dan berpasir halus putih serta matahari terbit dari luarnya. Nama pantai Kahona memang menarik namun itu bukanlah nama aslinya. Masyarakat sekitar mengatakan bahwa: "Pantai Kahona dinamakan oleh penduduk sekitar Pantai Sanggesange."
Agaknya slogan kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda, dapat dipakai untuk betapa indahnya pantai ini. Mengapa tidak? Pantai ini memiliki lebih banyak pohon kelapa, di kejauhan ada lebih banyak pohon cemara hijau, lalu di batasi oleh langit yang lebih luas, tak berbatas daripada pantai sekitarnya. Suara desir ombak lebih terdengar halus, tak mengejutkan pendengarnya. Suara angin membisik para penikmat pantai yang telah lelah.
Dua tahun yang lalu, saya dan keluarga pergi ke pantai Kahona. Sesaat saya sampai di tempat itu, saya terduduk lalu memandang sekeliling, maksud hati ingin mencari keburukan (saya banyak dikecewakan pantai-pantai Medan yang dikatakan indah oleh pemerintah setempat) tapi yang ditemukan adalah naturalisasi pantai pinggiran yang belum terjamah dan karya asli sang pencipta.
Saya terduduk dan menikmati panorama yang asli itu. Saya menyipitkan mata saat melihat ke laut biru, saya membelakkan mata melihat ke kiri dan kanan. Tangan saya merasakan sentuhan halus dari kehangatan matahari yang tadinya bergelut dengan pasir putih di sekeliling saya. Halus.
Lalu ombak yang ramah, membuat saya nyaman untuk bertemu dengannya, berkenalan lalu berpacaran dengannya. Saya terbuai dengan godanan dan sensasi panorama Pantai Kahona.
Tahun 2010, saat pantai ini mulai marak. Saya surfing di dunia internet, saya mendapati informasi bahwa jalan-jalannya menuju pantai tersebut berlubang.
Saat liburan terjadi, banyak masyarakat sekitar cemas dengan kelanjutan masalah ini. Saat hujan turun air akan tergenang dan berlumpur. Dan akan menurunkan minat para pengunjung lokal.
Dan saya yakin bukan hanya saya yang berpikiran seperti ini. Di perjalanan hal-hal seperti ban bocor, kecelakaan, patah per, akan menjerakan para pengunjung. Ditambah lagi dengan panjangnya waktu yang dihabiskan untuk mencapai pantai tersebut. Kasihan Pantai Kahona Sendirian Dia.
Pungutan-pungutan yang ada di pintu masuk pun terkadang tidak masuk akal, menambah rintangan. Pungutan itu mungkin tidak akan menjerakan jika adil dan bertanggung jawab namun para pemungut yang lebih mengutamakan kaum penguasa. Masyarakat bayar mahal kecuali preman setempat harus gratis. Melihat hal ini, saya rindu melihat perubahan yang positif dalam hal pengembangan dan perawatan pantai tersebut.
Seandainya Pemerintah Daerah setempat lebih memperhatikan masalah ini maka pembangunan pantai ini pasti akan terjadi.
Jalanan berlobang tidak terlihat, pungli tidak ada lagi dan ongkos-ongkos lebih diorganissir, akan memancing lirikan dari setiap wisatawan lokal dan wisatawan internasional.
Pantai kahonaPantai Timur Sumatera memang terkenal sangat indah. Masyarakat Timur Sumatera lebih menjadi saksi matanya. Seperti yang dikatakan salah satu Blogger, "Waktu kecil, saya tahu Simamatco, Kualo, Sanggesange dan Sipaubat." Banyak wisatawan daerah maupun lokal yang memang sudah pernah menikmati keindahan Pantai Timur Sumatera itu.
BalasHapusSalah satu Pantai Timur Sumatera yang belum banyak didengar masyarakat kita adalah Pantai Kahona. Pantai Kahona terletak di Desa Lobu Tua, kecamatan kota Barus dan berjarak lima kilometer dari pusat Kecamatan Andan Dewi serta ditempuh 2 jam dari pusat Kabupaten Sibolga, Sumatera Utara.
Pantai Kahona sebenarnya adalah sebuah teluk kecil yang memiliki pantai sepanjang 5000 meter. Teluk kecil ini memiliki pinggiran pantai yang landai dan berpasir halus putih serta matahari terbit dari luarnya. Nama pantai Kahona memang menarik namun itu bukanlah nama aslinya. Masyarakat sekitar mengatakan bahwa: "Pantai Kahona dinamakan oleh penduduk sekitar Pantai Sanggesange."
Agaknya slogan kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda, dapat dipakai untuk betapa indahnya pantai ini. Mengapa tidak? Pantai ini memiliki lebih banyak pohon kelapa, di kejauhan ada lebih banyak pohon cemara hijau, lalu di batasi oleh langit yang lebih luas, tak berbatas daripada pantai sekitarnya. Suara desir ombak lebih terdengar halus, tak mengejutkan pendengarnya. Suara angin membisik para penikmat pantai yang telah lelah.
Dua tahun yang lalu, saya dan keluarga pergi ke pantai Kahona. Sesaat saya sampai di tempat itu, saya terduduk lalu memandang sekeliling, maksud hati ingin mencari keburukan (saya banyak dikecewakan pantai-pantai Medan yang dikatakan indah oleh pemerintah setempat) tapi yang ditemukan adalah naturalisasi pantai pinggiran yang belum terjamah dan karya asli sang pencipta.
Saya terduduk dan menikmati panorama yang asli itu. Saya menyipitkan mata saat melihat ke laut biru, saya membelakkan mata melihat ke kiri dan kanan. Tangan saya merasakan sentuhan halus dari kehangatan matahari yang tadinya bergelut dengan pasir putih di sekeliling saya. Halus.
Lalu ombak yang ramah, membuat saya nyaman untuk bertemu dengannya, berkenalan lalu berpacaran dengannya. Saya terbuai dengan godanan dan sensasi panorama Pantai Kahona.
Tahun 2010, saat pantai ini mulai marak. Saya surfing di dunia internet, saya mendapati informasi bahwa jalan-jalannya menuju pantai tersebut berlubang.
Saat liburan terjadi, banyak masyarakat sekitar cemas dengan kelanjutan masalah ini. Saat hujan turun air akan tergenang dan berlumpur. Dan akan menurunkan minat para pengunjung lokal.
Dan saya yakin bukan hanya saya yang berpikiran seperti ini. Di perjalanan hal-hal seperti ban bocor, kecelakaan, patah per, akan menjerakan para pengunjung. Ditambah lagi dengan panjangnya waktu yang dihabiskan untuk mencapai pantai tersebut. Kasihan Pantai Kahona Sendirian Dia.
Pungutan-pungutan yang ada di pintu masuk pun terkadang tidak masuk akal, menambah rintangan. Pungutan itu mungkin tidak akan menjerakan jika adil dan bertanggung jawab namun para pemungut yang lebih mengutamakan kaum penguasa. Masyarakat bayar mahal kecuali preman setempat harus gratis. Melihat hal ini, saya rindu melihat perubahan yang positif dalam hal pengembangan dan perawatan pantai tersebut.
Seandainya Pemerintah Daerah setempat lebih memperhatikan masalah ini maka pembangunan pantai ini pasti akan terjadi.
Jalanan berlobang tidak terlihat, pungli tidak ada lagi dan ongkos-ongkos lebih diorganissir, akan memancing lirikan dari setiap wisatawan lokal dan wisatawan internasional.
mantap
BalasHapus